12 Desember

           Adzan Subuh membangunku dari tidur malam kemarin, aku melihan messages di Nokiaku “Ibu-43”. Aku wudhu dan bergegas menuju ke Surau tuk menghadap sang Khaliq. Lepas itu aku kena jewer Ibu karena aku lupa hantar barang Ibu ke rumah Budhe aku. Aku hanya bisa merunduk, dan takut melihat wajah Ibu, entah rasa dosa apa yang membuatku begitu khilaf dengan tugas yang Ibu amanatkan ke aku. Aku mandi , menikmati sambal tempe penyet dan sepiring nasi untuk pengganjal perut, dan aku tak lupa berpamitan kepada ayah dan ibu agar Ilmu yang aku dapatkan bisa diterima dengan mudah. Ku menelusuri dua Desa dengan berjalan dan ditemani dengan “Gitar Putih”. Tiba – tiba Aldan menghampiriku ditengah perjalanan dengan menaiki sepeda tuanya itu “kau tak penat jalan kaki ke sekolah?” aku hanya membalas dengan senyuman dan mengatakan “tidak, karena aku berjalan dengan niat mencari ilmu”. Kemudian Aldan menunutuiku sampai ke sekolah. Lonceng berbunyi ketika aku tiba di sekolah dan disapa oleh Pak Bon di sekitar sekolah, maklum beliau sudah mengenal dekat denganku karena beliau teman mangkal warung ayahku. Sudah tiba dikelas sudah disambut oleh Pak Nur “tumben kok cepat orangnya?”,kataku. Tiba  - tiba aku dipanggil Pak Nur , ternyata aku dapat nilai sempuna pada pelajaran Matematika. Entah kenapa bisa dapat nilai sedemikian rupa, padahal aku tidak belajar kala itu. Dan aku hanya no comment untuk hasil tadi, dan hanya senyum datar yang ku expresikan. Bel pulang sudah tiba , seperti biasa pulang sekolah aku bermain sepak bola di lapangan sebelah sekolahku, rasa pahitku terasa ketika Pak Bon memanggilku di rumah sakit karena Ibu Penyakitnya mulai kambuh, lalu aku pungsan. 1 jam kemudian aku bangun dan sedikit pusing , dan aku bergegas menuju ke rumah sakit. Alhamdulillah sakitnya tidak parah dan Ibu sudah sadarkan diri menyapa senyum kepada orang sekitar termasuk aku “kamu sudah tiba”,”Ini kertas untuk Ibu”, di dalamnya ada hasil ulangan matematika tadi dan puisi untuk Ibu.
Terima Kasih Ibu
Terima Kasih Ibu
Ku tak bisa hitung berapa yang aku harus bayar?
Ku tak bisa hitung berapa dosaku kepada Ibu?
Ku tak bisa balik tangan Ibu dengan tanganku
Ku hanya selalu mencoba berkata ya dan ya kepada Ibu
Ku tak bisa  apa - apa hanya memohon 
Ku selalu berdoa
Dan memberikan kesejukan hati
Di saat Ibu sedih
Bila aku sudah dapat kantong dari negeri seberang
Aku akan menyisihkan kepada Ibu
Selama Ibu masih hidup 
Aku akan selalu berusaha dan berusaha
Membahagiakanmu
Meski selama ini aku selalu menerima panah di dalam dadaku
Bila kau tiada
Aku akan membacakan kertas untukmu
Bila aku dulu yang tiada
Maafkan atas kekhilafanku selama ini
Terima kasih Ibu
Semoga Allah selalu melindungi apa yang dilakukan Ibu


“Oh nak,,, Ibu tak bisa berkata apapun, Ibu tak butuh  apa- apa nak,, Ibu Cuma butuh kamu bisa lulus sekolah dan dapat pekerjaan enak, gak seperti Ibu dan Ayahmu ini nak,, ”, aku tak bisa berkata apapun selain menangis dihadapan orang banyak , dan orang – orang sekitar ada pula yang menangis. Sehari kemudian Ibu dinyatakan sembuh oleh Dokter dan disambut nasi tumpeng sebagai tanda lahir ke 43 dan syukur Ibu sudah sembuh.

Comments