INFO - Melawan Ketamakan Tambang




Karakternya sangat kuat. Bicaranya lantang tanpa tedeng aling-aling dan tidak takut dibalas dengan caci-maki atau hujan protes. Bahkan ada kalanya, kenyaringan suaranya mengalahkan deru buldozer yang seakan siap melumat dirinya. Keteguhan hatinya sekeras gunung batu (marmer) yang akan terus dia perjuangkan.
Gunung batu di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memang unik, dianggap sebagai batu marga, diakui sebagai batu yang menyusui masyarakat karena menyimpan air. Apabila batu itu ditambang, tentu saja akan mengganggu ketersediaan air. Padahal, NTT merupakan daerah yang selalu mengalami kekeringan setiap tahun.
Aleta Baun (48). Dialah sang empunya karakter kokoh ini. Dia “hanyalah” ibu rumah tangga yang belajar berorganisasi secara autodidak. Dia mengorganisasi komunitasnya di Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten TTS, untuk melawan pertambangan marmer di daerahnya.
Dia sadar betul bahwa Mollo adalah jantungnya Pulau Timor, sehingga harus dijaga, karena di sanalah terletak Gunung Mutis, tempat mengalirnya beberapa sungai besar yaitu Sungai Noelmina, Benanain, dan Oebesi. Sungai itu menjadi sumber persediaan air bagi sebagian besar masyarakat di daratan Timor Barat hingga Timor Leste. Jadi, kalau Mollo habis, NTT juga akan habis.
Apalagi, di Gunung Mutis terdapat kawasan wisata cagar alam yang menyimpan berjuta flora dan fauna yang tentu menarik hati. Selain didominasi berbagai jenis pohon ampupu (Eucalyptus urophylla) yang tumbuh secara alami dan cendana (Santalum album), kawasan ini juga diperkaya dengan aneka fauna khas Timor seperti rusa timor (Cervus timorensis), sanca timor (Phyton timorensis), punai timor (Treon psittacea), dan betet timor (Apromictus jonguilaceus).
Dahan dan ranting pohon di dalamnya dipenuhi madu hutan yang sudah lama mampu menopang kehidupan ekonomi suku-suku yang bermukim di sekitarnya, di samping peternakan dan pertanian. Area ini juga layak menjadi lokasi pariwisata dengan pemandangan perkampungan di Kecamatan Fatumnasi.
Area tersebut subur karena adanya gunung batu marmer yang disebut faut kanaf dan di bawahnya keluar mata air yang disebut oe kanaf atau air dari batu. Untuk itu, batu yang menjulang tinggi ibarat pohon itu tetap dipelihara masyarakat sebagai sumber kehidupan. Di situ pula selalu dilakukan ritual adat.
Ternyata, kemudian kedamaian rakyat terusik oleh para investor yang mulai berdatangan pada 1995 untuk mengeruk bukit-bukit batu marmer yang menjanjikan keuntungan besar. Tentu saja mereka telah mendapat izin eksploitasi dari pemerintah setempat. Selain di Kecamatan Mollo Utara, pertambangan marmer juga beroperasi di Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TTS.
“Sebagai petani kami butuh air yang utuh, tanah yang utuh, hutan yang utuh, batu yang utuh. Ketika salah satunya hilang, kami tidak bisa bertani lagi,” kata Mama Aleta—nama panggilan Aleta Baun—kepada SH di sela-sela Kongres IV Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Kota Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara, 19–25 April 2012.
Dengan berapi-api ibu dari tiga anak ini menegaskan bahwa TTS bukanlah daerah eksploitasi, melainkan daerah produksi. Ini bukan berarti orang tidak boleh menambang di NTT, hanya saja harus dipertimbangkan betul daerah mana yang boleh dieksploitasi dan daerah mana yang tidak boleh dieksploitasi. Misalnya daerah hulu, itu tidak boleh dieksploitasi. “Biarpun kami miskin, asalkan lingkungan tetap hijau-subur, tetap bisa hidup,” ia menegaskan itu dengan mimik serius.
Ketika sejumlah perusahaan tambang mulai berdatangan, masyarakat masih bersikap biasa saja. Tetapi, begitu melihat batu-batu marmer mulai dipotong, mereka menjadi sadar bahwa kehidupan mereka sedang dirampas. Apalagi setelah kemudian benar-benar terjadi bencana berupa erosi tanah dan debit air sungai menjadi berkurang.
Meski demikian, rakyat tidak tahu harus berbuat apa. Barulah setelah ada lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang masuk ke wilayah itu, masyarakat menjadi tersadar bahwa keberadaan perusahaan tersebut harus dilawan.
Siksaan Fisik
Mama Aleta mulai mengenal dunia pergerakan ketika bergabung di Yayasan Sanggar Suara Perempuan (SSP) pada 1993, yayasan yang peduli pada masalah perempuan. Namun setelah sejumlah pertambangan masuk TTS, dia keluar dari Yayasan SSP lalu membentuk Organisasi Ataimamus (OAt), hasil kesepakatan dengan tokoh-tokoh adat setempat.
Perusahaan pertambangan berjanji akan membangun 20 rumah, puskesmas, gereja, membuka jaringan listrik, membangun jalan beraspal, dan memberikan beasiswa. Namun ternyata itu semua omong kosong. Kemudian pada 1999 Mama Aleta melakukan konsolidasi dengan tokoh-tokoh adat setempat, lalu pada 2000 mulai melakukan aksi demonstrasi.
Awalnya, tidak mudah baginya untuk bergerak karena tidak didukung suaminya, meskipun lama-kelamaan sang suami mendukung istrinya yang memperjuangkan 16.000 haktare tanah adat. Belum lagi sulitnya menghadapi budaya masyarakat setempat, yang kalau diberi sebotol sopie (arak) dan uang Rp 60.000 saja sudah mau menuruti kemauan perusahaan.
Tak jarang pula aksi premanisme terpaksa dihadapinya, begitu juga ancaman dan olok-olok. Pada April 2007 saat baru pulang dari sebuah kampung, preman-preman melakukan sweeping di jalan-jalan untuk mencarinya, sampai-sampai dia harus bersembunyi di kolong jembatan. Namun, persembunyiannya diketahuo, sehingga kaki kanannya dibacok. “Preman itu memeras minta uang Rp 400.000. Agar nyawa selamat, saya serahkan Rp 200.000 yang saya punya,” tutur Mama Aleta.
Dia juga pernah dipukul di depan kantor pengadilan karena menggerakkan masyarakat untuk menggugat bupati. Rumahnya juga sempat dilempari batu sehingga dia bersama suami dan ketiga anaknya terpaksa mengungsi. Malah suaminya, Godlif Sanam, yang seorang guru, pernah diancam akan dibunuh. Kerasnya perlawanan ini membuat hidupnya berpindah-pindah dan dituding sebagai perempuan yang suka keluar malam.
Setelah melakukan perlawanan hebat, toh masyarakat belum juga menganggapnya. Dia baru diakui setelah berhasil mengusir empat perusahaan tambang marmer pada 2008. Berkat perjuangannya pula, Mama Aleta kemudian berhasil menggalang kekuatan bersama para perempuan NTT untuk melawan pertambangan marmer. “Perempuan-perempuan di sana sekarang berani.
Ada pegawai hutan yang sampai terkencing-kencing ketakutan karena dicekik,” katanya. “Bahkan tentara dan polisi pun kini mikir-mikir kalau menghadapi para perempuan itu,” ujarnya.
Baginya, perempuan adat memang perlu diberdayakan. Ini karena kebanyakan perempuan adat menjadi petani, dan tanah, air, hutan, dan bebatuan dirusak karena ketamakan. Ketamakan untuk uang, padahal uang bukanlah segala-galanya.
“Uang itu seperti angin. Sekarang ada di rumah, besok ada di toko karena sudah dipakai untuk membeli barang di toko tersebut. Uang itu setan dunia!” itulah penegasan perempuan yang dibesarkan di keluarga kristiani miskin ini.
Mama Aleta berani melawan maut karena sadar dirinya sudah diberi kehidupan oleh Sang Maha Pencipta. Tuhan pun bisa datang setiap saat untuk menjemputnya, karena itu setiap saat pula dirinya harus siap untuk mati. Jadi, dia menyiapkan diri untuk mati. Sebelum kematian datang, dia akan terus memelihara ciptaan Tuhan dengan memelihara hutan di kampung halamannya, Kabupaten TTS.

Comments