DRAMA


DRAMA
JUDUL : PERTEMUAN TAK TERDUGA
TEMA : PERSAHABATAN
TOKOH :
1. ACHMAD SYAFI’I/9H/01=SEBAGAI  SYAFI’I, ANAK PAK BAGAS
2. BAGAS DANUR. R/9H/05=SEBAGAI PAK BAGAS, AYAH SYAFI’I
3. DIKY EKO. W/9H/10=SEBAGAI PAK DIKY, TEMAN PAK BAGAS DAN PAK ABDY
4. M. ABDY. CAHYA/9H/16=SEBAGAI PAK ABDY, TEMAN PAK BAGAS DAN PAK DIKY









        Suatu hari, hiduplah Pak Bagas dan anaknya Syafi’I, dan pada suatu hari beberapa tahun lalu ibunya Syafi’I meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Syafi’I pun sedih melihat itu. Beberapa tahun kemudian di pagi hari yang begitu cerah, Pak Bagas dan Syafi’I sedang berbincang – bincang di suatu jalan di kota Paris. Pak Bagas sebenarnya sudah mengadakan pertemuan dengan Pak Abdy. Namun Pak Bagas belum menemukan Pak Abdy. Berkat dari anaknya Syafi’I mereka mengetahui keberadaan Pak Abdy dan dia sedang duduk membaca buku.

Pak Bagas : “Nak, apa yang sedang kamu pikirkan?”
Syafi’I : “Oh…. Tidak yah. Cuma liat pemandangan pagi kota                Paris yang begitu indah.”
Pak Bagas : “Jangan kau pikirkan soal kematian ibumu itu. Itu              sudah kehendak Allah sendiri”
Syafi’I : “Ngak kok yah. Aku sudah ngelupain kejadian itu.”
Pak Bagas : “Ya sudah kalau begitu. Oh ya, ayah ada                                     pertemuan pertemuan teman ayah. Masih kenal gak, sama Pak Abdy?.”
Syafi’I : “Yang waktu tu……. Kalau gak salah terakhir di Rumah Sakit ya, sebelum      ibu meninggal”
Pak Bagas : “Ya. Tapi mana orangnya ya?(sambil menengok ke kanan kiri)”
Syafi’I : “Lha itu Pak Abdy terlihat sambil baca buku (sambil menunjuk jarinya)”
Pak Bagas : “Kau benar anakku.“
Syafi’I : “Ayo kita kesana.”
Pak Bagas : “Ayo.”
         Setelah mengetahui keberadaan Pak Abdy berkat dari Syafi’I. Pak Bagas dan Syafi’I segera menghampiri Pak Abdy. Setelah berjabat tangan, mereka pun berbincang – bincang hingga panjang lebar. Karena Syafi’I merasa bosan, akhirnya dia pun keluar dan pamit dengan ayahnya Pak Bagas dan Pak Abdy. Tapi sebelumnya mereka akan berencana ke Stadion Camp Nou untuk melihat pertandingan besar El-Classico dengan naik kereta express di kota Lyon.
Pak Bagas + Syafi’I : “Assalamuallaikum…………….”
Pak Abdy : “Wa’alaikumsalam…………….(sambil menutup buku). Eh Pak Bagas,                    Syafi’I, nampaknya kamu sudah besar ya??? (sambil memandang                    Syafi’I)”
Pak Bagas : ”Ya. Masih ingat kapan terakhir ketemu anakku Syafi’I?”
Pak Abdy : ”Itu ya. Dulu terahir……..  Oh, silahkan duduk. Dari pada berdiri                  melulu.”
Pak Bagas + Syafi’I : ”Oh ya….… makasih”
Pak Abdy : ”Dulu terakhir ketemu di rumah sakit, waktu itu ibunya Syafi’I                  dirawat disana. Tapi……… Allah  berkehendak lain. Oh ya………… Aku                       malah bahas itu. Maaf ya, kalau menyinggung perasaanmu, Syafi’I”
Syafi’I : ”Oh…. Gak apa – apa kok Pak, aku udah ngelupain kejadian itu.”
Pak Abdy : “Syukurlah kalau begitu.”
Pak Bagas : “Rencananya gimana??? Jadi apa gak?”
Syafi’I : “Rencana apa yah?”
Pak Abdy : “Kita rencananya mau ke stadion Camp Nou untuk lihat pertandingan           El-Classico.”
Syafi’I : “Aku boleh ikut kan yah…………. (sambil memegang tangan Ayahnya)”
Pak Bagas : “Ya anakku (sambil membelai rambut anaknya)”
Syafi’I : “Yesssss…………….. (sambil bersemangat)”
Pak Abdy : “ Loh…….. tapi kita kesana naik apa?”
Pak Bagas : “Kita naik kereta express di jalan Lyon.”
Pak Abdy : “Bukannya jalan Lyon tempatnya masih jauh dari sini?”
Pak Bagas : “Ya sih, tapi aku tau jalan pintasnya (sambil menepuk dadanya)”
Pak Abdy : “Awas kalau nyasar kayak dulu lagi.”
Pak Bagas : “Tenang aja, udah aku perkirakan. Semuanya akan tenang – tenang              saja (bersikap tenang)”
Pak Abdy : “Ya udah kalau begitu.”
Syafi’I : “Yah, aku keluar dulu ya. Aku lapar, nanti aku tunggu langsung di jalan          Lyon. Dan aku juga mau makan – makan di sana.”
Pak Bagas : “Ok anakku.”
Syafi’I : “(sambil berdiri) aku pamit dulu yah, Pak Abdy assalamuallaikum…………..”
Pak Abdy + Pak Bagas : “Wa’alaikumsalam……………….”
Setelah Syafi’I pergi, mereka pun berbincang – bincang masalah 10 tahun yang lalu.”
Pak Bagas : “Jadi. Ada apa juga bertemu denganku?”
Pak Abdy : “Aku masih memikirkan masalah 10 tahun yang lalu(murung)”
Pak Bagas : “Sudah…………. (sambil menepuk bahunya) jangan kau pikirkan masalah            itu lagi, biarkan berlalu aja. Kan itu sudah terjadi, tidak usah kau                            pikirkan lagi.”
Pak Abdy : “Ya makasih (agak senang) berkat kau, aku udah gak seberapa sedih.”
Pak Bagas : “Ya sama – sama(sambil tersenyum)”
Pak Abdy : “Oh ya…….. sekarang jam berapa?”
Pak Bagas : “(sambil melihat jam tangannya) waduh………….. kurang 30 menit lagi              keretannya akan berangkat.”
Pak Abdy : “Ayo kita berangkat, nanti kita malah yang terlambat.”
Pak Bagas : “Hem……… (sambil menganggukkan kepala)”
Pak Abdy + Pak Bagas : “(berdiri kemudian berlari menuju stasiun)”
         Setelah mereka berbincang – bincang kemudian mereka berlari menuju stasiun, di saat yang sama Syafi’I setelah makan mendengar sebuah petikan lagu yang dimainkan pemuda misterius itu yang rasanya ia pernah dengar dari ayahnya mainkan dengan gitar.
Syafi’I : “Alhamdulillah………… perut kenyang, hati senang (sambil menepuk                 perutnya.”
Pak Diky : “(sambil memetik gitar)”
Syafi’I : “Rasanya aku pernah dengar lagu itu biasanya aku dengar dari yang ayah       mainkan, tapi aku lupa. Ah mending aku Tanya aja ke orangnya (sambil       menunjukkan jarinya)”
Syafi’I pun menghampirinya dan setelah berbincang – bincang ternyata pemuda misterius itu Pak Diky teman Pak Bagas Pak Abdy sejak SMP yang dulu berpisah.
Syafi’I : “Assalamuallaikum……………… permisi pak”
Pak Diky : “Wa’alaikumsalam………….. (sambil menaruh gitarnya) ada apa ya?                   Silahkan duduk dulu.”
Syafi’I : “Oh ya……….. makasih (duduk). Rasanya aku pernah dengan yang di                mainkan Bapak tadi. Tapi aku lupa lagu itu.”
Pak Diky : “Oh…………… itu lagunya Peterpan yang judulnya Semua Tentang Kita”
Syafi’I : “Oh ya………… Peterpan!!! (sambil menunjukkan jarinya sekarang aku baru       ingat”
Pak Diky : “Kamu dengar lagu itu dari mana?”
Syafi’I : “Biasanya tiap malam ayahku sering mainkan lagu yang Bapak maikan                      tadi.”
Pak Diky : “Bapak kamu namanya siapa?”
Syafi’I : “Ayahku namanya Bagas.”
Pak Diky : “Bagas??? (agak kaget). Bapak kamu waktu SMP sekolahnya di SMPN 1       SOOKO ya?”
Syafi’I : “Ya. Kok tahu??? (agak kaget)”
Pak Diky : “Bapakmu itu temenku waktu SMP sama satunya lagi namanya Pak                         Abdy. Kenal gak kamu?”
Syafi’I : “Kenal, mereka rencananya mau ke sini naik kereta express.”
Pak Diky : “Emangnya ada apa naik kereta express?”
Syafi’I : “Mau ke stadion Camp Nou untuk lihat pertandingan El-Classico.”
Pak Diky : “Wah…… asyik tuh. (dengan penuh semangat). Tapi ngomong – ngomong        mereka dimana sekarang?”
Syafi’I : “Bentar lagi mereka segera datang. Bapak tunggu aja.”
Pak Diky : “Kuharap mereka cepat datang, karena bentar lagi kereta tujuannya            segera berangkat.”
         Setelah Syafi’I berbincang – bincang dengan Pak Diky. Pak Abdy dan Pak Bagas pun datang. Mereka begitu agak capek karena dari Jalan Paris ke Jalan Lyon dengan berlari dengan jalan pintas yang ditujukan oleh Pak Bagas. Mereka pun terkejut melihat kedatangan Pak Diky.
Pak Abdy + Pak Bagas : “Hufff…………. (dengan capeknya)”
Syafi’I : ‘Ya. Itu orangnya. (sambil menunjuk jarinya dan kemudian berdiri)”
Pak Bagas : “Siapa dia anakku?”
Syafi’I : “Ini Pak Diky. Maih ingat gak?”
Pak Abdy + Pak Bagas : “Pak Diky???(sambil menatap mata kemudian sambil                                     mengucekkan mata). Beneran???”
Syafi’I : “Emangnya ada apa sih? Kelihatannya gak biasa? (agak bingung sambil           menoleh – noleh)”
Pak Diky : “(sambil berdiri dan memegang gitar)”
Pak Abdy : “(sambil menepuk badannya) Kok bisa kamu hidup, bukannya kamu                           sudah terseret arus sungai?”
Syafi’I : “Apa??? (dengan terkejut)”
Pak Diky : “Ya memang waktu itu arusnya sangat deras hingga kalian tidak bisa             memegang tanganku. Setelah itu, kebetulan ada penduduk desa                        sebelah dan kemudian juga menolongku dari mautku. Selain itu mereka          juga menyekolahkanku hingga dapat gelar S1 di London.”
Pak Abdy + Pak Bagas + Syafi’I : “(sambil menepuk tangan) Hebat…………”
Pak Diky : “Gua gitulohh………. (dengan bangganya)”
Pak Bagas : “Kebiasaan, gak pernah berubah – berubah.”
Syafi’I : “bzzz……… (sambil tertawa dengan menutup mulutnya)”
Pak Bagas : “(sambil melihat jam tangannya) bentar lagi keretanya udah                          berangkat.”
Syafi’I : “Yah. Boleh gak ajak Pak Diky ke stadion Camp Nou?”
Pak Abdy: “Siapa yang bilang gak boleh. Belul kan?”
Pak Bagas : “Pasti lah…….. ayo kita berangkat”
Pak Abdy + Pak Diky + Syafi’I : “Ayo………….. (dengan penuh semangat)
         Akhirnya mereka pun berangkat ke stadion Camp Nou dengan naik kereta express. Dan setelah kejadian itu mereka menjadi teman sejati yang tak akan terpisah hingga akhir waktu. TAMAT

Comments